SHARE

istimewa

SEMANGAT45.CO - Limbah kulit jagung ternyata dapat dikreasikan menjadi sejumlah produk bernilai tinggi. Hal inilah yang telah dikreasikan oleh empat mahasiswa Universitas Padjadjaran, Iip Hanifah (Fisika 2014), Resti Ayu Widyarini (Fisika 2014), M. Rizky Ridwansyah (Kimia 2014), dan Yoga Jati Pratama (Teknologi Pangan 2014), melalui unit usaha yang mereka rintis sejak akhir tahun lalu, “Ketapel Kujang Motif Jawa Barat”.

Ketapel Kujang disini sendiri merupakan singkatan dari Kerajinan Tangan dengan Pemanfaatan Limbah Kulit Jagung. Ciri khas dari produk mereka adalah adanya motif batik khas Jawa Barat di setiap produknya dengan teknik airbrush.

Adapun limbah kulit jagung yang dimanfaatkan berasal dari Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Mulanya, mereka miris melihat banyaknya kulit jagung yang  dibuang begitu saja, bahkan dibakar. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengolah limbah tersebut menjadi produk yang lebih bermanfaat seperti dompet, tas, dan lampu hias.

“Keunggulan dari produk ini, yang pertama bahannya mudah didapat. Yang kedua, kita benar-benar memanfaatkan limbah untuk dijadikan yang lebih bermanfaat,” ujar Iip, (21/06).

Mereka mengakui, proses pengolahan limbah jagung ini bukanlah hal yang mudah. Setelah melalui proses penelitian dan pengembangan, mereka pun akhirnya menemukan teknik yang pas dalam proses pengolahan limbah kulit jagung. Proses pengolahan limbah kulit jagung ini pun kini sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual.

“Waktu kita bikin pertama kali, informasi tentang pengolahan kulit jagung ini  sangat sedikit dan terbatas,” ungkap Yoga.

Untuk membuat produk hasil olahan limbah kulit jagung ini, ada beberapa proses yang harus mereka lalui mulai dari merebus hingga membuat pola. Setelah pola jadi, proses selanjutnya adalah menjahit dan menambahkan pola batik yang dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah penjahit dan seniman airbrush.

Menambahkan motif batik khas Jawa Barat, merupakan sarana mereka untuk lebih memperkenalkan motif-motif ini kepada konsumennya sebagai ajang pelestarian budaya. “Generasi muda di Indonesia banyak yang tidak mengenal  budayanya sendiri. Meski mereka tinggal di Jawa Barat, belum tentu mereka tahu batik Jawa Barat itu seperti apa,” ujar Iip.

Melalui Ketapel Kujang ini, Iip dan tim pun ingin membawa manfaat lebih bagi para petani jagung dengan memanfaatkan limbahnya. Selain itu, mereka juga ingin menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya mengelola “sampah” sebagai gerakan cinta lingkungan. Selain dapat tersebar di seluruh Indonesia, mereka juga berharap produk ini dapat dipasarkan secara internasional.

“Harapannya, semoga pembeli nanti sadar bahwa sebenarnya sampah juga bisa kita olah,” harap Rizky.